Identitas Keterangan
Nama Melani
Kelas XI (Sebelas)
Jurusan Animasi
Sekolah SMK Negeri 2 Pariaman
Mata Pelajaran Animasi Modeling
Guru Pengampu Bapak Hasyanal Faukhanuri
Judul Project Pembuatan Pose Silek 3D pada Karakter
Paragraf 1 (Pendahuluan dan Latar Belakang) Saya, Melani, siswa kelas 11 jurusan Animasi di SMK Negeri 2 Pariaman, telah melaksanakan project pembuatan pose silek 3D pada mata pelajaran Animasi Modeling yang diampu oleh Bapak Hasyanal Faukhanuri. Project ini terasa sangat istimewa bagi saya karena silek (atau silat) adalah seni bela diri tradisional yang berasal dari ranah Minangkabau, Sumatera Barat, tepatnya dari daerah kami sendiri. Melalui project ini, saya tidak hanya belajar tentang teknik posing karakter 3D, tetapi juga berusaha melestarikan dan memperkenalkan budaya lokal melalui karya animasi. Pose silek dipilih karena memiliki gerakan khas yang berbeda dengan bela diri lainnya, seperti posisi tangan yang lembut namun mematikan, kuda-kuda yang rendah dan lentur, serta gerakan kaki yang meliuk-liuk penuh kelincahan. Bapak Hasyanal memberikan apresiasi atas pilihan tema ini dan mendorong saya untuk menggali lebih dalam filosofi serta gerakan khas silek Minangkabau.
Paragraf 2 (Karakteristik dan Proses Posing Silek) Sebelum memulai proses posing, saya mempelajari referensi gerakan silek dari berbagai sumber, termasuk menyaksikan pertunjukan silek tradisional di acara budaya Pariaman, menonton video dokumenter, serta mengamati langsung gerakan pelatih silek di lingkungan sekitar. Karakteristik khas silek Minangkabau antara lain: kuda-kuda yang tidak terlalu lebar namun rendah dan lentur, posisi tangan yang terbuka (bukan mengepal) dengan jari-jari rapat membentuk pola khas, gerakan tangan yang lembut mengalir seperti air, serta pandangan mata yang tajam namun tenang. Dengan model karakter 3D yang sudah memiliki rig lengkap, saya mulai memosisikan tubuh. Saya menekuk lutut secara proporsional, merendahkan badan, lalu membuka kedua tangan setinggi dada dengan telapak tangan terbuka dan jari-jari rapat. Bapak Hasyanal membimbing saya untuk memastikan bahwa pose tidak terlihat kaku seperti bela diri lain, tetapi justru menonjolkan kelenturan dan keanggunan khas silek.
Paragraf 3 (Detail Gerakan Tangan, Kaki, dan Penyempurnaan) Setelah pose dasar terbentuk, saya melanjutkan ke detail gerakan tangan dan kaki yang menjadi ciri khas silek. Untuk tangan kanan, saya posisikan di depan dada dengan telapak terbuka menghadap ke depan sebagai posisi siaga. Untuk tangan kiri, saya letakkan lebih rendah di area pinggang, juga dengan telapak terbuka, menggambarkan kesiapan menangkis serangan dari bawah. Saya juga menambahkan sedikit lengkungan pada pergelangan tangan agar terlihat lentur dan tidak kaku. Pada bagian kaki, saya membuat posisi agak menyilang dengan berat badan bertumpu pada kaki belakang, memungkinkan karakter untuk bergerak cepat. Bapak Hasyanal mengajarkan pentingnya arah pandangan mata—dalam silek, mata tidak hanya fokus ke depan tetapi juga "melihat" ke segala arah melalui gerakan kepala yang halus. Saya juga menambahkan ekspresi wajah yang tenang namun waspada, mencerminkan filosofi silek yang mengutamakan pengendalian diri.
Paragraf 4 (Kesimpulan dan Ucapan Terima Kasih) Dengan terselesaikannya project pose silek 3D ini, saya merasa sangat bangga karena berhasil menciptakan pose yang tidak hanya baik secara teknis animasi, tetapi juga membawa nilai budaya Minangkabau ke dalam karya digital. Project ini mengajarkan saya bahwa animasi dapat menjadi media pelestarian budaya, dan sebagai siswa dari SMK Negeri 2 Pariaman, saya memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan silek kepada dunia melalui karya-karya saya. Saya belajar tentang kelenturan tubuh dalam silek, filosofi di balik setiap gerakan, serta bagaimana menangkap esensi budaya lokal ke dalam bentuk tiga dimensi. Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Hasyanal Faukhanuri yang telah dengan antusias mendukung pilihan tema silek ini, memberikan bimbingan teknis yang luar biasa, serta mengingatkan saya untuk selalu bangga dengan budaya daerah sendiri. Semoga laporan ini bermanfaat dan menjadi bukti bahwa siswa SMK Negeri 2 Pariaman mampu menghasilkan karya animasi 3D yang tidak hanya berkualitas secara teknis, tetapi juga kaya akan nilai budaya dan kearifan lokal.

Post a Comment