Sunday, April 12, 2026

Project Animet 3D Membuat Pose Menendang

 Identitas Keterangan

 Nama Melani

 Kelas XI (Sebelas) 

Jurusan Animasi 

Sekolah SMK Negeri 2 Pariaman 

Mata Pelajaran Animasi Modeling 

Guru Pengampu Bapak Hasyanal Faukhanuri 

Judul Project Pembuatan Pose Menendang 3D pada Karakter



Paragraf 1 (Pendahuluan dan Latar Belakang) Saya, Melani, siswa kelas 11 jurusan Animasi di SMK Negeri 2 Pariaman, telah melaksanakan project pembuatan pose menendang 3D pada mata pelajaran Animasi Modeling yang diampu oleh Bapak Hasyanal Faukhanuri. Project ini bertujuan untuk melatih kemampuan saya dalam menerapkan prinsip posing atau pembentukan pose pada karakter tiga dimensi, khususnya pose aksi dinamis seperti menendang. Berbeda dengan project-project sebelumnya yang lebih berfokus pada pemodelan objek statis atau ekspresi wajah, project ini menuntut saya untuk memahami anatomi tubuh manusia, keseimbangan berat badan, serta garis aksi (line of action) agar pose yang dihasilkan terlihat kuat, bertenaga, dan meyakinkan. Pose menendang dipilih karena merupakan salah satu gerakan aksi yang paling menantang, membutuhkan koordinasi antara kaki yang menendang, kaki tumpu, posisi pinggul, tubuh bagian atas, serta lengan sebagai penyeimbang. Bapak Hasyanal menekankan bahwa pose yang baik adalah fondasi dari animasi gerak yang halus dan realistis. 



Paragraf 2 (Karakteristik dan Proses Posing) Sebelum memulai proses rigging dan posing, saya mempelajari referensi gerakan menendang dari video pertandingan bela diri, film aksi, serta gambar anatomi. Karakteristik pose menendang yang baik meliputi: satu kaki terangkat tinggi menuju sasaran (lurus atau sedikit ditekuk tergantung jenis tendangan), kaki tumpu yang berpijat kuat di tanah dengan posisi agak membuka, pinggul yang berputar mengikuti arah tendangan untuk menghasilkan tenaga maksimal, tubuh bagian atas yang sedikit condong ke belakang atau ke depan sebagai penyeimbang, serta kedua lengan yang terangkat secara alami—satu lengan maju untuk keseimbangan dan satu lengan ditarik ke belakang. Dengan model karakter sederhana yang sudah memiliki rig (tulang) lengkap, saya mulai menggerakkan bagian-bagian tubuh menggunakan inverse kinematics (IK) pada kaki dan lengan. Bapak Hasyanal membimbing saya untuk memastikan bahwa garis aksi tubuh membentuk kurva dinamis yang mengalir dari kaki tumpu hingga ujung kaki yang menendang.

 Paragraf 3 (Keseimbangan, Detail, dan Penyempurnaan) Setelah pose dasar terbentuk, saya melanjutkan ke tahap penyempurnaan keseimbangan dan detail. Saya memastikan bahwa pusat massa tubuh (sekitar area pinggul) berada tepat di atas area tumpuan kaki agar karakter tidak terlihat akan jatuh. Saya juga menyesuaikan posisi pinggul agar sedikit terangkat pada sisi kaki yang menendang, memberikan kesan tenaga yang naik ke atas. Untuk pose yang lebih hidup, saya menambahkan sedikit putaran pada bahu (kontra-posisi dengan pinggul) serta memiringkan kepala sedikit ke samping atau menunduk ke arah sasaran. Saya juga mengatur posisi jari-jari kaki pada kaki tumpu agar mencengkeram tanah, serta jari-jari kaki pada kaki yang menendang agar meregang keluar. Bapak Hasyanal memberikan koreksi bahwa pose menendang yang baik juga harus memperhatikan arah pandangan mata karakter—mata harus fokus ke arah sasaran tendangan, bukan ke arah lain, agar terlihat intens dan meyakinkan. Saya juga menambahkan efek motion line sederhana pada hasil render untuk menekankan kesan gerakan cepat.

 Paragraf 4 (Kesimpulan dan Ucapan Terima Kasih) Dengan terselesaikannya project pose menendang 3D ini, saya mendapatkan pemahaman yang sangat berharga bahwa sebuah pose aksi yang baik tidak hanya bergantung pada posisi kaki atau tangan, tetapi merupakan hasil dari keseimbangan seluruh tubuh, garis aksi yang jelas, serta perhatian terhadap detail-detail kecil seperti posisi pinggul, bahu, dan arah pandangan mata. Project ini mengajarkan saya bahwa dalam animasi aksi, pose yang kuat dan meyakinkan dapat membuat penonton merasakan tenaga dan kecepatan dari gerakan tersebut, bahkan tanpa animasi bergerak sekalipun (hanya satu frame diam). Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Hasyanal Faukhanuri yang telah sabar membimbing saya, memberikan referensi pose-pose aksi dari film animasi profesional, serta mengajarkan pentingnya line of action dan contrapposto dalam menciptakan pose yang hidup dan dinamis. Semoga laporan ini bermanfaat dan menjadi bukti bahwa siswa SMK Negeri 2 Pariaman mampu menciptakan karakter 3D dengan pose aksi yang kuat, seimbang, dan penuh tenaga.

Post a Comment